Sabtu, 06 Mei 2017

Rezeki Tak Perlu Dicari

Kemarin malam, ada pesan whatsapp yang mendarat dengan selamat ke ponselku. “Aku mau curhat.” Keningku berkerut membacanya. Terlihat ada tulisan “mengetik”. Tidak ada yang salah kalau dia ingin bercerita denganku. Tapi, teman yang satu ini lebih dewasa dan berpengalaman dibanding aku yang masih gadis ingusan. 

Kutunggu, dia mengetik pesannya begitu lama. Menerka-nerka, cerita apa yang akan dia kisahkan kepadaku. Masalah pekerjaan sepertinya tidak mungkin, apalagi masalah rumah tangga.

Sesaat kemudian, ada pesannya lagi. Dia bercerita akhir-akhir ini berat untuk menulis, karena terselip niat lain dalam tulisannya, yaitu menghasilkan uang. Dia juga bilang, kalau niat sudah melenceng memang seperti ini jadinya. Dengan diikuti emot sendu.

Kuambil napas berkali-kali. Berulang-ulang kubaca pesannya. Sengaja tidak langsung kubalas, karena masih bingung harus jawab dengan kalimat seperti apa. Rasanya aku tidak pantas mengetikkan kalimat-kalimat motivasi atau nasehat lain. Karena diri ini sering dihampiri kekhilafan. Malu memberi orang lain semangat, tapi diri sendiri masih bergelung dalam kemalasan. 

Sabtu, 22 April 2017

Harga Diri Seorang Gadis

Masih ada sisa-sisa ingatan saat aku memasuki masa pubertas. Ibu begitu antusias dan was-was. Ibu bilang, “Anakku sudah menjadi dara dewasa.” Masih membekas kepingan memori, saat ibu begitu menggebu-gebu menjelaskan ini-itu dan aku harus begini begitu.

Semenjak itu, terlihat sendu yang terlukis jelas di wajah ibu saat aku masih suka menggunakan rok atau celana selutut sepulang sekolah menengah pertama. Ibu dengan sabarnya selalu menegur, tapi selalu luntur dalam ingatanku.

Ibu paling tidak suka melihatku memamerkan betis pada laki-laki berkumis. Atau mengumbar rambut panjang pada laki-laki hidung belang.

Ibu telah menjadi alarm natural yang nasihatnya menggaung di telingaku. Anak gadis bicaranya harus manis, sikapnya tidak boleh sinis, dan pakaiannya tidak boleh tipis. Begitulah, ibu selalu berkisah bagaimana anak gadis harus menjaga diri.

Ibu pernah berkali-kali menyuruh bapak mencariku ke sudut sekolah suatu malam untuk mengetahui keadaanku. Beliau kelimpungan bertanya ke sana-sini, karena aku tak memberitahu kenapa tak juga pulang saat senja tergantikan langit indah bertabur bintang. Padahal aku sedang tidak macam-macam. Hanya terlalu asyik menyiapkan acara organisasi sampai lupa mengabari.


Aku juga pernah jahat saat seharian keluar tanpa memberi kabar. Ponsel kubiarkan tergeletak dalam tas tanpa pernah mempedulikan dering telepon yang memekik berulang kali. Aku bersenang-senang menggemakan tawa, sedang ibu cemas di ujung sana.

Ibu sering cemas berlebihan saat aku tak kunjung pulang dari reuni teman sekolah. Beliau sering mendaratkan pesan singkat yang berisikan peringatan-peringatan agar tak sering pulang malam. Aku juga pernah diomeli habis-habisan karena tak memberi kabar saat melakukan perjalanan jauh.

Aku sering menganggap perhatian dan kecemasan mereka itu terlalu berlebihan. Berulang kali aku bilang, “Aku baik-baik saja, Pak, Bu. Kenapa harus dicemaskan, aku sudah dewasa dan bisa menjaga diriku sendiri.”

Entah, bagaimana perasaan mereka saat aku begitu jahatnya mengucap seperti itu. Andai saat itu aku tahu, menjaga harga diri anak gadis tak semudah menjaga anak kucing yang hanya diberi makan.

“Hati orang tua kalau terjadi apa-apa dengan anaknya itu rasanya seperti teriris.  Apalagi kalau anak gadis,” jawabmu membuatku tertegun beberapa saat.

Aku merasa konyol sekali, saat suatu malam Ibu meneleponku hanya untuk bilang, “Nduk, hati-hati, ya. Kuliah yang bener, jaga diri baik-baik. Kalau terpaksa pulang malam harus sama temen.”

Ah, Ibu. Saat itu aku merasa sok dewasa sampai rasanya tak perlu lagi kau ingatkan perihal itu.

Tapi semakin ke sini, semakin banyak cerita tentang terenggutnya harga diri seorang gadis mampir di telinga, ada rasa takut yang diam-diam menyelinap.

Aku sekarang mengerti, kondisi dunia saat ini mengundang kekhawatiran para orang tua. Aku bisa melihat air muka ibu saat duduk bersama menonton TV. Berita tentang pelecehan sudah mengantre untuk ditayangkan. Kudapati ibu menelan ludah berulang kali dan terlihat jelas resah yang menggelayut di wajahnya.

Wajar saja, jika ibu menyuruhku mengurungkan niat untuk bepergian jauh dari rumah. “Di sini saja, agar Ibu bisa menjagamu,” katanya.

Memang dasarnya aku anak keras kepala. “Aku bisa menjaga diri,” kataku meyakinkan. Aku tak menyerah membujuknya. Sampai aku sudah berkepala dua, beliau masih memperlakukan aku seperti putri kecilnya.

Bapak juga sering bilang, jangan mudah menjatuhkan hati pada laki-laki yang suka mengumbar janji.

“Jaga diri baik-baik.” Aku tersenyum membaca pesan-pesan peringatannya setiap pagi.

Tenanglah, Pak, Bu. Aku masih anak gadismu yang masih tetap manis seperti dulu. Tak perlu lagi menghujani aku dengan kekhawatiran yang tak berkesudahan. Cukup semogakan aku dalam setiap doa yang kau gemakan ke langit. 

Hanya doalah satu-satunya pelangi yang menggantikan gelayut mendung kecemasanmu. Satu-satunya mentari yang mengeringkan basah hujan kerinduan kita. Percayalah, dalam setiap arah langkahku, hatiku selalu basah dengan cinta kepada kalian. Dan aku, adalah anak gadismu yang selalu dijaga oleh Tuhan.

Senin, 17 April 2017

Butiran Candu


Dia bilang, “Jangan mendekat, nanti kau akan mengumpat.”

Aku bilang, “Sedikit saja aku ingin menyentuh agar ragaku tak jenuh.”

Dia bilang, “Tak perlu, kau tak terbiasa denganku.”

Aku bilang, “Tidak ada salahnya jika aku mencoba merasa.”

Dia bilang, “Aku tidak bisa merakyat, hanya orang tertentu yang bisa kubuat         nikmat.”

Aku bilang, “Aku membutuhkanmu seperti mereka yang selalu memburu.”

Dia bilang, “Mereka memburu karena telah menjadi pecandu.”

Aku bilang, “Aku juga ingin meneguk nikmatmu sampai aku tak lagi kuyu.”

Dia bilang, “Bukan tak lagi kuyu, malah kau akan lesu.”

***
Aku bilang, “Butiranmu kuat sampai membuatku kerja dengan hebat.”

Dia bilang, “Kau ingin menegukku lagi?”

Aku bilang, “Tak perlu, cukup sekali di bulan ini.”

Dia bilang, “Rupanya butiranku tak bisa membuatmu menjadi pecandu.”

Aku bilang, “Karena kau membuat jantungku loncat, mataku membulat, dan perutku digigit ulat.”

Dia bilang, “Memang tidak semua orang bisa nikmat dengan hitam pekat.”



*Dialog sore dengan secangkir kopi 

Kamis, 13 April 2017

Ramai Dalam Sepi

Tak selalu yang berdua itu bahagia, dan yang sendiri itu sepi. Kau tak percaya?

Aku memang pernah merasa iri dengan pasangan di luar sana. Memasang foto berdua berkeliling ke sudut penjuru kota mengumbar bahagia. Tapi aku tahu itu belum sepatutnya kulakukan. Dan aku tahu, usia yang masih terhitung belia ini belum saatnya bahagia karena cinta. Aku tahu, bahkan sangat tahu. Tapi bukankah keinginan itu terbesit tiba-tiba karena sifat manusiawiku?

Untuk hati yang selalu ingin memiliki, dan wahai diri yang ingin diiringi. Dunia ini terlalu sempit jika diartikan bahagia melulu karena cinta. Untuk hati yang pernah merasa sepi dan untuk jiwa yang berulang kali tertatih-tatih menahan rindu yang belum saatnya, bersabarlah! Tak perlu merutuki diri sendiri, itu semua manusiawi.

Aku pernah iri melihat mereka berdua melengkungkan senyum secara bersamaan di sebuah foto. Atau menggemakan tawa bergantian di sudut kota. Sekali lagi, bukan itu definisi bahagia. Aku tidak sedang menggurui kalian, hanya saja aku mencoba menyugesti diriku sendiri. Bahwa bahagia bukan melulu karena cinta atau sedang berdua.

Suatu malam, ada pesan yang dengan selamat mendarat di ponselku. Dari sebuah kawan yang lama tak bertemu pandang. Dengan tanpa basa-basi, dia mengisahkan tentang kekasihnya yang tak kunjung memberi kepastian. Ah, menyesakkan sekali rasanya.

Dan kau tahu? Dia adalah orang yang pernah aku sebut begitu bahagia. Tanpa kuduga, dia menyimpan secuil cerita lara yang tak pernah dia bagi kepada orang terdekatnya sekalipun.

Ada lagi, seorang kawanku yang telah menjadi ibu muda. Dia yang sering melayangkan pesan berisi curhatan tentang rumah tangganya. Perasaanku berkecamuk, haru, bahkan bingung harus menanggapi bagaimana. Aku belum membangun rumah tangga, dan tak tahu harus memberi solusi apa. Aku bukan orang yang patut dimintai solusi, jawabku suatu ketika. Dia mengabaikan ucapanku dan terus mengalirkan semua keluh-kesahnya. Aku mendengarkan dengan saksama. Mungkin jika aku bukan pemberi solusi yang baik, setidaknya aku menjadi pendengar yang selalu membuat nyaman setiap orang yang datang berkisah kepadaku.

Semua ceritanya tidak sebanding dengan foto bertiga—dia, suami, dan batitanya—yang sering tersebar di media sosialnya. Kukira, dia sudah lama bahagia dan menyimpan banyak cerita ceria. Tapi nyatanya, itu semua hanya kebahagiaan semu yang dia pamerkan. Ah, tidak-tidak. Setiap orang memiliki definisi bahagia masing-masing. Mungkin, lukisan jempol atau coretan komenan setiap orang di setiap fotonya bisa sedikit menghibur dan mengobati laranya.

Mereka boleh bilang aku sendiri dan itu menyedihkan. Dan aku juga boleh bilang, kalian lebih menyedihkan dari apa yang kubayangkan. Dalam tawa yang kau gemakan terselip isak tangis yang kau tahan. Tapi dalam kesepianku yang mencekam, ada sejuta kisah bahagia yang sengaja tak kubagikan. Karena memang, bahagia itu hanya cukup aku sendiri yang tahu dan merasakan. Kuceritakan pun kalian tak akan mengerti. Nanti dikira aku sedang membual.

Aku pernah merasa sepi, ingin didampingi. Tapi itu dulu dan hanya seketika. Lalu aku mencoba keluar untuk menyibukkan diri. Benar kata orang, orang yang sibuk itu bukan orang yang benar-benar sibuk, tapi memang sengaja untuk menyibukkan diri. Sampai aku terlupa dengan kesepian yang pernah melanda. Sampai aku lupa dengan harap yang pernah kugantungku dulu entah di mana. Aku lupa semua itu. Yang kutahu, aku sekarang sibuk menyibukkan diri sampai aku tak sempat memikirkan laki-laki. 

Dan aku sekarang lebih suka sepi. Dunia yang kuciptakan sendiri sudah membuatku ramai tanpa perlu ada yang mengisi. Karena aku bosan dengan laki-laki yang suka berkomitmen, tapi nyatanya malah berbelit.  Aku tetap di sini bergelung dengan sunyi sampai ada yang mengadakan sayembara pencarian tulang rusuk kirinya yang menghilang disembunyikan oleh waktu.




Minggu, 09 April 2017

Ketika Aku Masih Diingat

Sejauh yang kuingat, seminggu lalu aku dan teman-teman relawan Rumah Zakat telah mengunjungi rumah Mbah Tosi yang bertempat di Arjasa, Jember. Kami berkunjung untuk melaksanakan program Kejutan Bahagia. Meski waktunya sudah lewat, aku tetap merasa memiliki hutang jika belum menuliskannya.

Awal melihat foto beliau bersama adiknya yang bernama Mbah Misni, aku merasa iba. Dari kondisi fisik mereka sudah terlihat memprihatinkan. Sebelumnya, tidak terpikirkan olehku perjalanan ke rumahnya itu sesulit apa, atau kondisi rumahnya bagaimana.

Saat perjalanan ke rumahnya, ada jawaban yang tidak pernah aku pertanyakan. Ternyata, istana kecil mereka berada jauh dari pusat kota. Untuk ke sana, harus melewati jalan yang terjal, berkelok-kelok, dan menanjak.

Apalagi saat itu Jember sedang diguyur hujan, sehingga jalanan lebih terasa licin. Ada perasaan takut yang menyelinap, karena jalanan yang sempit dan belum diaspal itu berdekatan dengan jurang dan sungai yang arusnya deras.

Rabu, 05 April 2017

Laki-Laki Pertamaku

Dia mengayunkan tubuhku tinggi-tinggi. Sampai aku merasa melayang terbang mengangkasa di udara. Tawa kecilku pecah diiringi tawanya yang renyah. Sesekali dia dekatkan hidungnya di ujung hidung mungilku. Lalu pelan-pelan disapukan kumis tebalnya ke pipiku yang masih putih bersih. Aku tertawa geli dibuatnya.

Aku bahagia menjadi sosok yang dulu. Gadis kecil berusia tiga tahun yang belum mengerti tentang rumitnya kehidupan. Yang kutahu, aku bermain dan belajar melakukan pekerjaan orang dewasa yang masih ringan. Seperti, menyuapkan nasi lembut ke mulutku sendiri atau belajar memegang botol susu saat menjelang tidur.
"Mau biskuit?" Lelaki dewasa itu menyodorkan biskuit bundar. Aku meraihnya, lalu memamah pelan dengan satu dua gigi yang mulai tumbuh.

Ada gadis cantik yang berusia lebih dua tahun dariku berlari mendekat ke arah kami. Dia menggendong tas merah mudanya dengan langkah riang. Kulihat gadis itu memeluk laki-laki dewasa yang sedari tadi menggendongku.

Tanpa diminta, gadis yang sering kudengar dipanggil Lala itu melepas sepatu dan kaos kakinya. Setelah mencuci tangan, dia berlari ke dapur mengambil sepotong melon di dalam kulkas dengan berjinjit.

"Mau melon?" Mulutnya terlihat penuh mengunyah.

Selasa, 04 April 2017

Caraku Mencintaimu

Dia duduk melipat kakinya di hadapanku. Kudapati sendu yang memberati wajahnya. Aku menatap iba. Beberapa kali terdengar dia membuang napas kasar dan aku hanya menggumam. Kalimat tanya yang ingin kuutarakan menggantung di tenggorokan tak terucapkan.

“Apa yang kamu lakukan jika orang yang kamu sukai disukai temanmu sendiri?” Tiba-tiba pertanyaannya mengudara. Bola matanya berkaca-kaca. Aku tahu, ada isak yang disembunyikan.

Kututup buku yang ada di tangan dan perhatianku mengarah kepadanya.

(Pertanyaan ini memang tepat ditanyakan kepadaku)

Ada perasaan yang bergejolak setiap dia datang dan menceritakan pertemuan, kerinduan, dan perasaannya terhadap sesosok laki-laki yang diam-diam juga mengisi ruang hatiku.

Mengalah,” jawabku dengan sedikit cengengesan menutupi bah air mata yang hampir tumpah.

“Semudah itu?” tanyanya memastikan.

(Tentu tidak. Menerima kenyataan itu pahit)